Afrofuturisme mengajak pembaca melihat masa depan fiksi bukan hanya dari kecanggihan alatnya, tetapi juga dari budaya dan pengalaman yang ikut membentuk dunia tersebut. Istilah ini mula-mula digunakan untuk fiksi spekulatif, terutama fiksi ilmiah, tentang pengalaman Afrika-Amerika dalam berinteraksi dengan teknologi, lalu diperluas untuk mencakup diaspora Afrika lainnya [1].

Teknologi berhubungan dengan siapa yang membayangkan masa depan

Dalam pembacaan Afrofuturis, teknologi tidak berdiri sendiri sebagai tanda kemajuan. Pertanyaan yang lebih menarik ialah siapa yang mendapat ruang untuk membayangkan masa depan, pengalaman siapa yang dibawa ke dalamnya, dan sejarah apa yang masih terasa di sana. Karya dalam aliran ini secara umum mengangkat reklamasi, pembebasan kulit hitam, serta revisi masa lalu dan prediksi masa depan dari sudut pandang budaya kulit hitam [1].

Karena itu, sebuah dunia fiksi dapat terasa futuristik tanpa memutus hubungannya dengan identitas budaya. Perangkat canggih mungkin menarik perhatian, tetapi makna yang lebih dalam muncul ketika teknologi hadir bersama ingatan, simbol, dan cara pandang yang membentuk masyarakat dalam cerita. Ini adalah salah satu cara membaca Afrofuturisme, bukan rumus yang harus dipakai untuk setiap karya.

Budaya membentuk estetika, bukan sekadar menjadi hiasan

Hubungan itu juga tampak pada pilihan visual. Jurnalis Ruth La Ferla menggambarkan mode Afrofuturisme sebagai perpaduan unsur siborg, motif tradisional, citra robot, dan logam berkilau; sumber juga menyebut film Black Panther sebagai contoh mode Afrofuturisme [1]. Perpaduan tersebut dapat dibaca bukan hanya sebagai cara membuat kostum tampak futuristik, melainkan sebagai pertemuan antara imajinasi teknologi dan penanda budaya dalam satu dunia fiksi.

Pembacaan seperti ini menggeser perhatian dari pertanyaan "seberapa canggih tampilannya?" ke pertanyaan yang lebih bermakna: unsur budaya apa yang hadir, bagaimana ia ditempatkan, dan apakah ia ikut membentuk dunia cerita atau hanya menjadi tempelan visual? Jawabannya bergantung pada karya yang dibaca, tetapi pertanyaan itu membantu menjaga identitas tetap menjadi bagian dari imajinasi masa depan.

Dunia Afrofuturis tidak terbatas pada layar

Afrofuturisme juga hadir dalam musik dan sastra. Sumber menyebut perkembangannya diduga berawal dari musik, dalam konteks ketika orang kulit hitam kurang terwakili dalam film fiksi ilmiah pada 1950-an; musik yang dikaitkan dengannya mencakup jazz, hip-hop, neo soul, dan tekno [1]. Dalam sastra kontemporer, Octavia Butler dan Samuel Delany termasuk pengarang yang karyanya dianggap Afrofuturis [1]. Ragam medium ini mengingatkan bahwa Afrofuturisme bukan hanya soal rupa sebuah kota atau kostum, tetapi juga cara budaya menyusun kemungkinan masa depan.

Satu istilah tidak berarti satu pengalaman

Perluasan istilah Afrofuturisme untuk mencakup diaspora Afrika tidak membuat semua konteks budaya menjadi sama. Seniman Afrika Selatan Mohale Mashigo, misalnya, menekankan bahwa Afrofuturisme bukan untuk orang Afrika di Afrika dan mendorong penciptaan karya yang bertolak dari konteks mereka sendiri, termasuk pengalaman pascakolonial serta keadaan sosial, ekonomi, dan politik yang berbeda dari komunitas diaspora [1]. Pandangan ini menunjukkan pentingnya membaca asal dan konteks sebuah karya, bukan menganggap satu label sudah mewakili semua pengalaman.

Sudut editorial WAKANDA77 bertolak dari gagasan tersebut: teknologi dalam fiksi menarik dibaca bersama identitas budaya dan imajinasi masa depan. Dengan begitu, kecanggihan tidak menjadi tujuan akhir, melainkan bagian dari pertanyaan yang lebih luas tentang siapa yang membentuk masa depan dan nilai apa yang dibawanya.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Afrofuturisme. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=27974307&title=Afrofuturisme (diakses 2026-10-18).